word

Rabu, 24 Desember 2014

Saat *hati harus memilih

Aku tau kesan pertama diantara kita sangat sangat biasa. Aku tetap aku, yg menatap kalian dengan pandangan yg sangat acuh. Kalian tetap kalian yg mungkin mencoba untuk berbaur dg semua orang.

Kita punya gaya yg sangat berbeda, mulai dari *style hingga *sikap yang melekat dlm diri masing-masing. Mungkin aku menganggap kalian adalah sekumpulan manusia yg sama seperti orang yg selalu aku temui. Karna itulah aku, yg selalu menilai seseorang dari kulitnya. Jk menurutku kalian pantas jd seseorang yg penting dlm hidupku, mk aku akan berusaha keras menjadi apa yg kalian mau.

Pertemuan selanjutnya, sama . Penilaian yg masih biasa. Sangat sulit untuk berbaur bersama kalian. Aku hanya sibuk dg duniaku dan kepentingan yg tersembunyi dibalik semua sikapku. Tapi saat itu aku tau kalian adalah orang2 yg baik, yg tdk akan menilai seseorang dr luar. Tidak sama dg diriku. Saat itu ada hal yg membuatku termotivasi untuk terus menjalin hubungan dg kalian. Saat "hati" mulai bicara, aku akan berusaha keras untuk terus menuruti katahatiku.

Semakin sering pertemuan yg kita lakukan. Aku baru sadar kalau ternyata perbedaan diantara kita tidak akan membuat kita saling canggung. Akhirnya mulai ada rasa simpati untuk kalian. Aku mulai merasa nyaman saat bersama kalian dimana pun, kapan pun.
Bahkan saat jiwa islam kita mulai terlihat, aku tau kalian orang yg sangat memuliakan -Nya , menjalankan hidup bukan sekedar tujuan dunia, tp menjalani hidup untuk mencari berkah dijalan -Nya. Tujuan hidup yg sangat mulia, yg tidak pernah terpikir olehku selama masa kehidupanku.
Saat bersama kalian, aku merasa seperti sebutir kerikil yg ada diantara berlian yg berkilauan. Begitu tak berharga, dan sangat kusam diantara kalian.

Aku memang bukan lah seorang ahli agama, bahkan aku selalu berbuat dosa dimanapun, kapanpun, sadar ataupun tidak. Jauh berbeda dg kalian yg begitu menjaga sikap dihadapan -Nya maupun di depan manusia lain. Saat bersama kalian aku merasa aku adalah seseorang yg paling kotor. Tp aku jg merasa aku adalah orang yg beruntung, bisa bertemu kalian yg sangat aku sukai dari jiwa maupun raga kalian. Aku merasa nyaman saat berdoa bersama, atau saat sekedar mencari kesenangan dan mengisi waktu luang bersama.

Entah mengapa semakin lama aku semakin sayang kalian. Tidak ada niat jelek sedikitpun untuk mendekati kalian, tdk ada niat jelek sedikitpun untuk menjadi sahabat dan terus bersama kalian. Aku sayang pd kalian karna hati ku berkata kalian adalah orang2 yg pantas menjadi pembimbingku saat aku jatuh.

Semakin sering kita bersama, menghabiskan waktu bersama, bahagia bersama, ternyata ada hati yg terluka. Diluar sana, ada hati yg merasa dihianati, ada hati yg merasa tersakiti.
Aku tdk bsa melihat seseorang yg juga aku sayang menderita melihat semua kebahagianku bersama kalian. Aku tdk bisa dan tdk akan mengorbankan dia hanya untuk mengejar kesenangan belaka.

Aku tau hati yg tersakiti itu harus disembuhkan . Sebelum hubungan yg telah terjalin menjadi hubungan yg tiada arti lagi. Sebelum hubungan itu membeku seperti es di musim salju. Sebelum hati yg terluka itu menjadi semakin terluka dan tidak dapat disembuhkan. Maka aku harus memilih.

Saat hati ini harus memilih, aku tau aku lah orang yg akan tersakiti dengan semua pilihan yg aku buat. Aku tau aku lah orang yg akan selalu menangis saat mengingat semua yg telah aku lalui. Mungkin inilah jalan hidupku, yg telah diatur oleh -Nya, atau mungkin ini hanya cobaan yg datang ditengah kebahagiaan. Aku telah merasakan hal ini untuk kesekian kalinya. Berpisah dg seseorang yg sangat aku sayang yg bs membuatku bahagia.

Jika pilihanku ini membuat dia bahagia, aku rela menjadi orang yg merasakan sakit asalkan dia bisa kembali seperti biasa dan luka di hatinya dapat terobati.

Pilihan terakhirku, aku akan pergi dari kalian orang2 yg sangat aku sayang . Aku tdk tau sampai kapan aku menjauh, mungkin sampai batas waktu yg tdk dpt ditentukan. Atau bahkan mungkin sampai selamanya.

Aku berharap semua bisa bahagia walaupun aku tak hadir disekitar kalian. Saat ini aku hanya butuh kesunyian yg dapat membuatku tenang. Kesendirian yg dapat membuatku tenang.

*sahabat adalah segalanya.

This story dikutip dari catatan pribadi seorang blogger in this world.
Cerita yg sangat menyentuh, penuh konflik di dalam hati. Saat dia harus memilih sahabat mana yg akan dia jauhi dan akan dia raih. Konflik dalam hati saat dia harus mengorbankan sahabat yg satu demi membuat senang sahabat yg lain. Melupakan sahabat yg satu demi sahabat yg lain.
Saat *hati harus memilih.

0 komentar: