SELAMATKAN KELUARGA DARI TB-PERANAN PENTING RUMAH SAKIT DALAM PENANGGULANGAN TB

Rabu, 25 Januari 2012


SELAMATKAN KELUARGA DARI TB
Sekitar 7000 orang dari berbagai organisasi masyarakat seperti Aisyiyah/ Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa, Yayasan Pembina Anak Remaja Indonesia dan karyawan dari Jamsostek, Kementerian Kesehatan, Kementerian PP dan PA dan Kemenko Kesra hadiri gerak jalan sehat memperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia di Parkir Timur Senayan Jakarta pada tanggal 28 Maret 2010.
Gerak jalan sehat ini juga dihadiri Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH. Dr.PH, SIP, Menkum dan HAM, Patrialis Akbar, SH, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin, serta perwakilan Meneg PP dan PA.
Menkes dalam sambutannya mengatakan, gerak jalan sehat ini merupakan insiatif PP Aisyiyah/Muhammadyah dengan sasaran seluruh masyarakat Indonesia terutama yang berada di wilayah DKI Jakarta. Gerak jalan sehat ini juga melibatkan atlet-atlet Indonesia. Hal ini dimungkinkan berkat kerjasama dan koordinasi Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
 Sejak penerapan strategi DOTS pada tahun 1995, Indonesia telah mencapai kemajuan yang cepat. Angka penemuan kasus 71% dan angka keberhasilan pengobatan sebesar 88,44%. Angka tersebut telah memenuhi target global yaitu angka penemuan kasus 70% dan keberhasilan pengobatan 85%.
 Prevalensi TB di masyarakat menunjukkan trend penurunan yaitu dari 128/100.000 penduduk pada tahun 1998 menjadi 100/100.000 penduduk pada tahun 2008. Kendati telah dicapai kemajuan, namun masih tingginya kasus-kasus yang belum ditemukan dan diobati, adanya kasus resisten terhadap obat dan bertambahnya kasus HIV/AIDS menyebabkan TB masih merupakan ancaman yang serius bagi kesehatan masyarakat.
 Dampak Pandemi HIV/AIDS; HIV meningkatkan kejadian TB dan angka kematian di wilayah dengan prevalensi HIV tinggi (11-50% pasien HIV/AIDS meninggal karena TB).
Prevalensi HIV di antara pasien TB sesuai hasil Sero Survei berkisar 2-17%. Menurut Global Report 2009 estimasi HIV pada kasus TB sebesar 3%. Sejak tahun 2007 telah dikembangkan kolaborasi TB-HIV, saat ini sedang dilakukan uji coba pada beberapa daerah.
 Mutu pelaksanaan DOTS di rumah sakit, klinik swasta dan dokter praktek swasta belum optimal. Untuk itu diperlukan peningkatan kerja sama antara program penanggulangan TB dengan beberapa pihak diantaranya IDI dan beberapa organisasi profesi yang lain.

Pengembangan jejaring rumah sakit dalam penanganan pasien TB yaitu dengan masuknya strategi DOTS dalam standar pelayanan minimal rumah sakit, dan juga tersusunnya standar manajemen penanganan kasus TB di rumah sakit serta standar penanganan klinis kasus TB di rumah sakit.

Kerjasama dengan sektor terkait lainnya yaitu dengan Kementerian Hukum dan HAM untuk penanganan kasus TB di Lapas/Rutan, TNI dan Polri untuk penanganan kasus TB di instalasi pelayanan kesehatan TNI/Polri dan juga dengan beberapa LSM yang ada di Indonesia. Kerjasama yang sangat potensial juga dilakukan dengan Jamsostek, dimana telah dilakukan perjanjian kerjasama untuk menjamin pelayanan kasus TB di tempat kerja.

Situasi TB Multi Drugs Resistant (MDR) :
 Meningkatnya resistensi ganda kuman TB terhadap OAT (MDR-TB) karena A Man Made Problem. Perkiraan insidensi TB MDR 2-3% diantara kasus TB baru, dengan jumlah kasus TB MDR 6.395 pasien per tahun dan angka kematian global 50-70%. (WHO report 2009)
 Hasil Drug Resistant Survey (DRS) awal di Jawa Tengah yang dilaksanakan pada tahun 2006 menunjukkan bahwa 1,9% TB MDR ditemukan diantara kasus TB baru, dan 16,3% ditemukan pada kasus TB pengobatan ulang.
Program penanggulangan TB MDR mulai diujicobakan di RSUP Persahabatan dan RSUD Dr. Soetomo Surabaya sebagai rumah sakit rujukan. RSUP Persahabatan, memulai pengobatan pasien TB MDR sejak 10 Agustus 2009, sedangkan RSUD Dr. Soetomo sejak 12 Oktober 2009.
 Pada tahun 2010 ini direncanakan akan diperluasan di 2 wilayah Provinsi DKI Jakarta dan 6 kabupaten/ kota di sekitar kota Surabaya. Selain itu juga direncanakan untuk membuka wilayah baru di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Sulawesi Selatan.

Sumber : DEPKES

PERANAN PENTING RUMAH SAKIT DALAM PENANGGULANGAN TB
Pelaksanaan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) di rumah sakit merupakan salah satu upaya penting dalam menanggulangi TB di Indonesia, mengingat banyaknya permasalahan yang muncul terkait dengan kasus TB. Permasalahan yang ada yaitu, tingginya angka putus berobat (drop out), angka keberhasilan pengobatan yang rendah, peningkatan kasus HIV di rumah sakit, munculnya resistensi Obat Anti TB (OAT)/Multi Drug Resistant (MDR) TB akibat kurangnya pengawasan terhadap program pelayanan TB, persediaan OAT yang tidak memadai, kualitas obat yang tidak memenuhi standar, dan penatalaksanaan pengobatan yang tidak adekuat.
 Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, dr. Farid Wadjdi Husain, Sp. B(K) saat membuka acara Sosialisasi Pedoman Manajerial Pelayanan TB dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit tanggal 25/03, 2010 di Jakarta. Sosialisasi diikuti 80 orang terdiri dari para direktur rumah sakit yang telah melaksanakan strategi DOTS.
 Menurut Dirjen Bina Yanmedik, sejak tahun 1993 World Health Organization (WHO) mencanangkan TB sebagai situasi kegawatdaruratan dunia yang kemudian mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai DOTS. Strategi ini telah diimplementasikan dan diekspansi di Indonesia secara bertahap ke seluruh unit pelayanan. Berbagai kemajuan telah dicapai, sampai di tahun 2005 strategi DOTS telah menjangkau 98 % Puskesmas, akan tetapi strategi ini belum berjalan dengan baik di rumah sakit, kata dr. Farid.
 Kenyataan tersebut mendorong Pemerintah melakukan assesmen (proses pengumpulan informasi yang terus menerus) pelaksanaan DOTS di 18 rumah sakit pada 18 provinsi dan assesmen pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi bagi pasien TB-HIV di 7 propinsi pada tahun 2009, ungkap dr. Farid.
 Diharapkan dengan adanya strategi DOTS ini dapat memberi petunjuk bagi pimpinan rumah sakit sebagai penentu kebijakan dalam mengatasi kendala pelayanan TB dan implementasinya di rumah sakit. Hal itu dapat dilakukan melalui perbaikan sistem pelayanan TB, pemantapan jejaring pelayanan TB di rumah sakit (Hospital DOTS Linkage) serta peningkatan kerjasama dengan sarana pelayanan kesehatan dan Dinas Kesehatan setempat, tegas dr. Farid.
 Pertemuan ini bertujuan agar tersosialisasikannya pedoman manajerial pelayanan TB dengan strategi DOTS di rumah sakit dengan baik sehingga dapat mencapai keberhasilan dalam program.


Sumber : DEPKES

0 komentar: